![]() |
| Aki Rukim |
Oleh:
Nengsih Komalasari[1]
“ meuli hayam satalenan, di paraban ku
bakatul
Lamun
hayang diajenan, kudu ngajenan kabatur”.
Pepatah Sunda yang bermakna, “jika ingin mendapat perlakuan baik dari orang
lain, maka harus memberikan perlakuan baik kepada orang lain”.
Pepatah
ini diungkapkan oleh aki[2]
Rukim seorang seniman yang berdomisili di Desa Cibitung, Kecamatan Ciater,
Kabupaten Subang, Provinsi Jawa Barat.
Pepatah-pepatah
bahasa Sunda merupakan satu hal yang sudah hampir punah di dunia Sunda
sekalipun. tidak banyak kita dapatkan di zaman 2000an ini seni bahasa Sunda
yang sebenarnya mempunyai makna yang sangat berharga bagi kehidupan manusia.
Orang-orang yang melestarikan seni bahasa Sunda yang bermakna itu hanya
segelintir kecil, itupun orang-orang tua zaman 30 yang belum meninggal seperti aki
Rukim. Tidak banyak anak-cucu yang ingin melestarikan kebudayaan yang
sangat unik itu. karena kini tergerus dengan kebudayaan serba teknologi yang
menyita perhatian sebagian besar orang.
Jika
kita memperhatikan dan menyimak orang-orang Sunda zaman dahulu, akan kita
dapati banyak pelajaran hidup yang berharga. Pelajaran-pelajaran hidup itu
terdapat dalam seni sunda seperti Sandiwara, Tarian, Ukiran, Nyanyian sinden,
Gamelan dan lain-lain. Seperti cerita dari Aki Rukim yang sewaktu ia muda
bergelut dengan seni Sunda. Beliau adalah seorang seniman, dalam seni ukir,
seni tari, dan seni-seni yang yang lain yang tidak disebutkan oleh beliau. Beliau
menceritakan makna-makna filosofis yang terkandung dalam seni yang ia geluti.
Aki
rukim mengungkapkan pepatah “ meuli hayam satalenan, di paraban ku bakatul.
Lamun hayang diajenan, kudu ngajenan kabatur”. Pepatah ini merupakan
pepatah dalam sisindiran bahasa Sunda yang mempunyai makna filosofis yang cukup
dalam. Makna yang terkandungnya sebanding dengan ceramah-ceramah
agamawan. Pesan-pesan moral dan sosialnya yang tinggi dikemas dengan unik dan
mengesankan.
Pepatah
“ meuli hayam satalenan, di paraban ku bakatul. Lamun hayang diajenan, kudu
ngajenan kabatur” ini beliau ungkapkan kepada saya pada saat bersantai di
ruang keluarga setelah sahur (26 Ramadhan 1437/ 1 juli 2016). Makna dalam bahasa Indonesia (kurang lebih) “jika
ingin dihargai oleh orang lain, maka harus menghargai orang lain”. makna sosial
ini menyiratkan perilaku sesama manusia yang bilamana ia menginginkan perlakuan
baik atau pelayanan baik dari orang lain, maka dirinya terlebih dahulu lah yang
harus memberikan perlakuan atau pelayanan yang baik terhadap orang lain. karena
menurut aki Rukim, seseorang akan mendapatkan perlakuan sesuai
dengan apa yang ia lakukan terhadap orang lain. kata beliau, orang lain
mempunyai perasaan yang sama dengan kita, apapun yang kita rasakan, dirasakan
pula oleh orang lain.
Makna
ini kerap kali tidak disadari oleh banyak orang. Banyak orang yang ingin
dihargai oleh orang lain, tapi dirinya lupa untuk selalu menghargai
orang lain. Ada orang-orang yang mengeluh tidak mendapatkan perlakuan baik dari
orang lain, dan semena-mena ia menyalahkan orang lain itu. Perilaku tersebut
bukanlah perilaku yang diharapkan dari pepatah diatas. Orang lain tidaklah
semata-mata yang salah. Seseorang harus berani dan mau melihat kepada dirinya
sendiri (baca: introspeksi), apakah pernah memberikan perlakuan yang kurang
baik atau tidak kepada orang lain. teman saya bilang[3]
kesalahan itu ibarat tepuk tangan, ia akan berbunyi ketika ditepukan dengan kedua
belah tangan, sebaliknya ia tidak akan berbunyi ketika ditepukkan hanya sebelah
tangan. Begitupun kesalahan. Kesalahan yang sempurna, terjadi oleh kedua belah
pihak, tidak mungkin oleh salah satu pihak. Pasti kedua-duanya menyumbangkan kesalahan.
Sehingga terjadilah satu kesalahan yang sempurna.
Kembali
kepada pepatah bahasa Sunda diatas. Pepatah “ meuli hayam satalenan, di
paraban ku bakatul. Lamun hayang diajenan, kudu ngajenan kabatur”, Aki
Rukim dapatkan dari Sisindiran Basa Sunda. Ia mengatakan bahwa kita
jangan fanatik terhadap seni. Karena di dalam seni yang asli akan kita dapati
banyak pelajaran hidup, seperti halnya pepatah tersebut. Beliau mengatakan,
banyak agamawan fanatik terhadap seni, padahal orang yang benar-benar mengerti
agama tidak akan fanatik. Pepatah dalam seni mengandung pesan-pesan moral dan
sosial yang tinggi, yang tidak kalah dengan pesan-pesan para penceramah,
katanya. Misalnya, jika kita perhatikan pepatah dalam sisindiran diatas, maka hal
itu akan menjadi sangat berarti bagi hidup. Boleh saja dibilang semacam panduan
hidup dalam tataran sosial bagi orang yang benar-benar menyadari maknanya. “Pepatah
tersebut hanya aki dapatkan dalam seni Sisindiran Basa Sunda,
agamawan yang seringkali ceramahpun tidak pernah aki dengar kata-kata
demikian”, kata beliau.
Saya
mendapati betapa canggihnya berfikir beliau sebagai seorang seniman.
kecanggihan berfikirnya dapat disandingkan dengan kecanggihan berfirkir
agamawan atau penceramah zaman sekarang. Makna-makna hidup yang dkoar-koarkan
oleh para penceramah agamawan hari ini, yang kadang-kadang didengar dan
kadang-kadang tidak oleh jama’ahnya, sudah tertanam dalam jiwa seorang seniman
asal Desa Cibitung itu. pepatah-pepatah hidup yang sangat bermakna itu tercover
dalam seni Sunda yang dikemas dengan unik dan mengesankan. Seperti dalam
sandiwara, tarian, nyanyian sinden, ukiran, dan lain sebagainya, yang telah
dialami oleh aki Rukim.
Yang
disayangkan adalah, beiau belum sempat menurunkan keahliannya kepada
anak-cucunya. Beliau hanya sempat bercerita-cerita mengenai pengalamannya
kepada anak-cucunya hingga saat ini beliau hampir satu abad usianya dan sudah
sakit-sakitan. Pemikiran cemerlang beliau hanya sampai kepada sebuah cerita,
akan tetapi cerita yang mengagumkan.
Dengan
tidak menafikan pepatah agama, tulisan ini hanya bermaksud mengangkat kearifan
seni Sisindiran Sunda yang juga mempunyai makna filosofis yang dalam. Dengan
cerita yang dipaparkan oleh aki Rukim, penulis merasa penting untuk
berpartisipasi menjaga kearifan tersebut.
[2]
aki adalah panggilan bahasa
Sunda untuk istilah kakek
[3]
Ilham Maulana namanya,
seorang mahasiswa Filsafat Agama semester 7 UIN Sunan Gunung Djati Bandung.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar