Sabtu, 09 Juli 2016

Aki Rukim, Seniman Sunda: Pelajaran Hidup dalam seni

pelajaran hidup, pepatah, seniman Sunda
Aki Rukim
Oleh: Nengsih Komalasari[1]
 “ meuli hayam satalenan, di paraban ku bakatul
Lamun hayang diajenan, kudu ngajenan kabatur”.
Pepatah  Sunda yang bermakna, “jika ingin mendapat perlakuan baik dari orang lain, maka harus memberikan perlakuan baik kepada orang lain”.
Pepatah ini diungkapkan oleh aki[2] Rukim seorang seniman yang berdomisili di Desa Cibitung, Kecamatan Ciater, Kabupaten Subang, Provinsi Jawa Barat.
Pepatah-pepatah bahasa Sunda merupakan satu hal yang sudah hampir punah di dunia Sunda sekalipun. tidak banyak kita dapatkan di zaman 2000an ini seni bahasa Sunda yang sebenarnya mempunyai makna yang sangat berharga bagi kehidupan manusia. Orang-orang yang melestarikan seni bahasa Sunda yang bermakna itu hanya segelintir kecil, itupun orang-orang tua zaman 30 yang belum meninggal seperti aki Rukim. Tidak banyak anak-cucu yang ingin melestarikan kebudayaan yang sangat unik itu. karena kini tergerus dengan kebudayaan serba teknologi yang menyita perhatian sebagian besar orang.
Jika kita memperhatikan dan menyimak orang-orang Sunda zaman dahulu, akan kita dapati banyak pelajaran hidup yang berharga. Pelajaran-pelajaran hidup itu terdapat dalam seni sunda seperti Sandiwara, Tarian, Ukiran, Nyanyian sinden, Gamelan dan lain-lain. Seperti cerita dari Aki Rukim yang sewaktu ia muda bergelut dengan seni Sunda. Beliau adalah seorang seniman, dalam seni ukir, seni tari, dan seni-seni yang yang lain yang tidak disebutkan oleh beliau. Beliau menceritakan makna-makna filosofis yang terkandung dalam seni yang ia geluti.
Aki rukim mengungkapkan pepatah “ meuli hayam satalenan, di paraban ku bakatul. Lamun hayang diajenan, kudu ngajenan kabatur”. Pepatah ini merupakan pepatah dalam sisindiran bahasa Sunda yang mempunyai makna filosofis yang cukup dalam. Makna yang terkandungnya sebanding dengan ceramah-ceramah agamawan. Pesan-pesan moral dan sosialnya yang tinggi dikemas dengan unik dan mengesankan.   
Pepatah “ meuli hayam satalenan, di paraban ku bakatul. Lamun hayang diajenan, kudu ngajenan kabatur” ini beliau ungkapkan kepada saya pada saat bersantai di ruang keluarga setelah sahur (26 Ramadhan 1437/ 1 juli 2016). Makna  dalam bahasa Indonesia (kurang lebih) “jika ingin dihargai oleh orang lain, maka harus menghargai orang lain”. makna sosial ini menyiratkan perilaku sesama manusia yang bilamana ia menginginkan perlakuan baik atau pelayanan baik dari orang lain, maka dirinya terlebih dahulu lah yang harus memberikan perlakuan atau pelayanan yang baik terhadap orang lain. karena menurut aki Rukim, seseorang akan mendapatkan perlakuan sesuai dengan apa yang ia lakukan terhadap orang lain. kata beliau, orang lain mempunyai perasaan yang sama dengan kita, apapun yang kita rasakan, dirasakan pula oleh orang lain.
Makna ini kerap kali tidak disadari oleh banyak orang. Banyak orang yang ingin dihargai oleh orang lain, tapi dirinya lupa untuk selalu menghargai orang lain. Ada orang-orang yang mengeluh tidak mendapatkan perlakuan baik dari orang lain, dan semena-mena ia menyalahkan orang lain itu. Perilaku tersebut bukanlah perilaku yang diharapkan dari pepatah diatas. Orang lain tidaklah semata-mata yang salah. Seseorang harus berani dan mau melihat kepada dirinya sendiri (baca: introspeksi), apakah pernah memberikan perlakuan yang kurang baik atau tidak kepada orang lain. teman saya bilang[3] kesalahan itu ibarat tepuk tangan, ia akan berbunyi ketika ditepukan dengan kedua belah tangan, sebaliknya ia tidak akan berbunyi ketika ditepukkan hanya sebelah tangan. Begitupun kesalahan. Kesalahan yang sempurna, terjadi oleh kedua belah pihak, tidak mungkin oleh salah satu pihak. Pasti kedua-duanya menyumbangkan kesalahan. Sehingga terjadilah satu kesalahan yang sempurna.
Kembali kepada pepatah bahasa Sunda diatas. Pepatah “ meuli hayam satalenan, di paraban ku bakatul. Lamun hayang diajenan, kudu ngajenan kabatur”, Aki Rukim dapatkan dari Sisindiran Basa Sunda. Ia mengatakan bahwa kita jangan fanatik terhadap seni. Karena di dalam seni yang asli akan kita dapati banyak pelajaran hidup, seperti halnya pepatah tersebut. Beliau mengatakan, banyak agamawan fanatik terhadap seni, padahal orang yang benar-benar mengerti agama tidak akan fanatik. Pepatah dalam seni mengandung pesan-pesan moral dan sosial yang tinggi, yang tidak kalah dengan pesan-pesan para penceramah, katanya. Misalnya, jika kita perhatikan pepatah dalam sisindiran diatas, maka hal itu akan menjadi sangat berarti bagi hidup. Boleh saja dibilang semacam panduan hidup dalam tataran sosial bagi orang yang benar-benar menyadari maknanya. “Pepatah tersebut hanya aki dapatkan dalam seni Sisindiran Basa Sunda, agamawan yang seringkali ceramahpun tidak pernah aki dengar kata-kata demikian”, kata beliau.
Saya mendapati betapa canggihnya berfikir beliau sebagai seorang seniman. kecanggihan berfikirnya dapat disandingkan dengan kecanggihan berfirkir agamawan atau penceramah zaman sekarang. Makna-makna hidup yang dkoar-koarkan oleh para penceramah agamawan hari ini, yang kadang-kadang didengar dan kadang-kadang tidak oleh jama’ahnya, sudah tertanam dalam jiwa seorang seniman asal Desa Cibitung itu. pepatah-pepatah hidup yang sangat bermakna itu tercover dalam seni Sunda yang dikemas dengan unik dan mengesankan. Seperti dalam sandiwara, tarian, nyanyian sinden, ukiran, dan lain sebagainya, yang telah dialami oleh aki Rukim.
Yang disayangkan adalah, beiau belum sempat menurunkan keahliannya kepada anak-cucunya. Beliau hanya sempat bercerita-cerita mengenai pengalamannya kepada anak-cucunya hingga saat ini beliau hampir satu abad usianya dan sudah sakit-sakitan. Pemikiran cemerlang beliau hanya sampai kepada sebuah cerita, akan tetapi cerita yang mengagumkan. 
Dengan tidak menafikan pepatah agama, tulisan ini hanya bermaksud mengangkat kearifan seni Sisindiran Sunda yang juga mempunyai makna filosofis yang dalam. Dengan cerita yang dipaparkan oleh aki Rukim, penulis merasa penting untuk berpartisipasi menjaga kearifan tersebut.   







pelajaran hidup, pepatah, seniman Sunda



 








[1] Mahasiswa Filsafat Agama (semester 7), UIN Sunan Gunung Djati Bandung
[2] aki adalah panggilan bahasa Sunda untuk istilah kakek
[3] Ilham Maulana namanya, seorang mahasiswa Filsafat Agama semester 7 UIN Sunan Gunung Djati Bandung.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar