| Maritim Indonesia |
“Indonesia
akan menjadi poros maritim dunia, kekuatan yang mengarungi dua samudera, sebagai
bangsa bahari yang sejahtera dan berwibawa” jelas bapak presiden RI, Joko
Widodo dalam forum Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Asia Timur, sebagaimana
dilansir dalam website presidenri.go.id.
Pernyataan
Bapak Presiden Jokowi tersebut merupakan fokus pemerintah di abad ke-21 ini,
dimana kekuatan Geo-Ekonomi dan Geo-Politik sedang bergeser dari Barat ke Asia Timur.
Indonesia
sebagai kepulauan seribu dengan wilayah perairan yang cukup luas, dan terletak
di garis Equator antara Asia dan Australia, juga diapit oleh dua samudera,
yaitu pasifik dan Hindia merupakan peluang yang cukup besar untuk mewujudkan
cita-citanya menjadi poros maritim dunia.
Banyak
hal yang harus dipersiapkan dalam menghadapi ini, terutama Sumber Daya Manusia
(SDM) dan Sumber Daya Alam (SDA) yang tersedia. Tentu saja perbaikan struktur
dan infrastruktur dan semacamnya merupakan tugas pemerintah yang memerlukan
anggaran yang tidak sedikit, akan tetapi bukan berarti rakyat hanya berpangku
tangan. Rakyat sebagai SDM yang justru perlu mempersiapkan diri dengan matang.
Mulai dari mengakses informasi, meningkatkan kemampuan berkomunikasi (bahasa
asing), kemampuan menggunakan teknologi, dan memenej SDA. Seperti dikatakan
oleh bapak Kementrian Pembangunan Daerah Tertinggal (KPDT) Helmy Faishal Zaini,
“beberapa daerah mempunyai Sumber Daya Manusia dan Sumber Daya Alam yang
melimpah, namun belum digali secara maksimal. Hanya dengan tekad, semangat dan
kerja keraslah, kita mampu merubah daerah ini menjadi daerah maju”. Tegasnya
dalam buku “Dari Pulau ke Pulau membangun Indoneisa”. Karena pada
umumnya daerah maritim di Indonesia terutama daerah perbatasan merupakan daerah
tertinggal, sehingga layak mendapat perhatian prioritas.
Yang
menjadi fokus kita sekarang adalah bagaimana SDM siap dengan tantangan
tersebut. Oleh karena itu Pengenalan kemaritiman kepada generasi muda merupakan
salah satu upaya awal dalam menghadapi ini, termasuk akses informasi yang
merata kepada seluruh warga negara terutama generasi muda.
Yang
pertama-tama diperlukan untuk meningkatkan SDM ini adalah kesadaran diri
sendiri, setiap orang perlu menyadari kemampuan dirinya. Kemampuan berkomunikasi,
dan kemampuan menggunakan teknologi terutama. Kedua hal ini sudah bukan masalah
suka atau tidak suka, tetapi lebih kepada kebutuhan. Yang kedua adalah rasa
nasionalisme yang kuat. Setiap warga negara diharapkan mempunyai rasa
nasionalisme terhadap bangsanya sendiri, sehingga ia bertanggungjawab atas kemajuan
bangsanya. kepentingan bangsa diatas kepentingan pribadi idealnya. Yang ketiga
adalah pendidikan, baik pendidikan umum maupun pendidikan kemaritiman.
Pendidikan kemaritiman menjadi penting, karena sektor maritim menyumbangkan
pendapatan perkapita negara cukup tinggi, mengingat luasnya wilayah perairan.
Selain itu juga pendidikan kemaritiman perlu guna mencegah eksploitasi terhadap
biota laut.
keindahan
maritim Indonesia juga menjadi salah satu keistimewaan bagi sektor wisata. Yang
kemudian dapat—meminjam istilah menteri PDT, Helmy Faishal Zaini—mendongkrak
ekonomi lokal. Maka dengan adanya peluang menjadi poros maritim dunia, sektor
wisata diharapkan dapat mengangkat perekonomian Indonesia dengan signifikan.
